Masa remaja sering digambarkan sebagai periode yang penuh gejolak. Perubahan suasana hati yang cepat, perasaan yang intens, dan reaksi yang kadang sulit dipahami menjadi bagian dari proses tumbuh kembang. Namun, dibalik itu, ada satu tantangan yang sering luput disadari. Sebagian remaja sebenarnya kesulitan mengenali apa yang mereka rasakan sendiri.
Secara biologis, otak remaja sedang berada dalam fase perkembangan yang tidak seimbang. Sistem emosional berkembang lebih cepat dibandingkan area otak yang berperan dalam pengendalian diri dan pemaknaan pengalaman. Akibatnya, emosi terasa kuat, tetapi kemampuan memberi label pada emosi tersebut belum sepenuhnya matang.
Selain faktor biologis, lingkungan juga berperan terhadap kemampuan remaja mengenali emosi. Remaja yang tumbuh dalam keluarga atau budaya yang jarang membicarakan perasaan mungkin tidak terbiasa mengidentifikasi emosi secara spesifik. Jika sejak kecil perasaan sering diabaikan atau dianggap “berlebihan”, remaja bisa kehilangan kosa kata emosionalnya.
Tekanan sosial juga menambah kompleksitas. Keinginan diterima teman sebaya membuat remaja cenderung menyembunyikan emosi tertentu, terutama yang dianggap lemah seperti sedih atau takut.
Kesulitan mengenali emosi berkaitan dengan konsep regulasi emosi, yaitu kemampuan memahami, menerima, dan mengelola perasaan. Ketika remaja tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan, ia cenderung bereaksi secara impulsif atau justru memendam emosi terlalu lama.
Sebagian remaja mengalami kondisi yang disebut alexithymia, yaitu kesulitan mengidentifikasi dan menggambarkan emosi. Mereka lebih mudah merasakan sensasi fisik, seperti sesak di dada atau sakit perut, dibanding menyebutkan perasaan seperti cemas atau sedih.
Akibatnya, emosi bisa muncul dalam bentuk perilaku bermasalah seperti ledakan marah, menarik diri, atau perubahan suasana hati yang ekstrem. Bagi orang dewasa, ini sering terlihat sebagai “moody” atau “susah diatur”, padahal di dalam diri remaja ada kebingungan emosional yang nyata.
Beberapa tanda remaja kesulitan mengenali emosi yang kerap muncul antara lain:
Emosi tidak dikenali dengan baik lebih sulit dikelola. Remaja bisa lebih rentan mengalami kecemasan, stres, atau depresi karena perasaan menumpuk tanpa pemahaman yang jelas. Hubungan sosial juga dapat terganggu. Misalnya, temannya melihatnya sebagai pribadi yang mudah marah atau tertutup. Dalam jangka panjang, kesulitan ini dapat terbawa hingga dewasa, mempengaruhi cara seseorang menghadapi konflik, mengambil keputusan, dan membangun hubungan dekat.
Dalam membantu remaja mengenali emosi yang dirasakan, orang tua atau orang dewasa di sekitarnya harus ikut berperan. Pertama, bantu remaja memperkaya kosa kata emosi. Bantu remaja mengenal kata seperti kecewa, cemas, gugup, bangga, atau lega. Kedua, biasakan refleksi sederhana. Pertanyaan seperti, “Tadi kejadian itu bikin kamu merasa apa?” atau “Di badan kamu rasanya bagaimana saat itu?” membantu menghubungkan sensasi fisik dengan emosi. Ketiga, validasi tanpa menghakimi. Ketika remaja merasa emosinya diterima, ia lebih berani mengeksplorasi perasaannya sendiri. Keempat, berikan contoh. Orang dewasa yang terbuka tentang perasaannya memberi model bagaimana emosi dapat dikenali dan diungkapkan secara sehat.
Jika remaja menunjukkan kesulitan emosional yang berat, seperti ledakan emosi ekstrem atau penarikan diri berkepanjangan, bantuan profesional dari psikolog dapat membantu melatih keterampilan regulasi emosi secara lebih terstruktur. Smile Consulting Indonesia menyediakan layanan asesmen psikologi, konseling, dan pendampingan profesional yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap individu. Smile Consulting Indonesia berkomitmen mendukung proses pengembangan diri secara komprehensif tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada proses yang sehat dan bermakna.
Referensi:
Gross, J. J. (2015). Emotion regulation: Current status and future prospects. Psychological Inquiry, 26(1), 1–26.
Steinberg, L. (2014). Adolescence (10th ed.). McGraw-Hill.
Taylor, G. J., Bagby, R. M., & Parker, J. D. A. (1997). Disorders of affect regulation: Alexithymia in medical and psychiatric illness. Cambridge University Press.
Zimmermann, P., & Iwanski, A. (2014). Emotion regulation from early adolescence to emerging adulthood. International Journal of Behavioral Development, 38(2), 182–194.