Pertengkaran dalam rumah tangga bukanlah hal yang sepenuhnya dapat dihindari. Perbedaan pendapat antara orang tua merupakan bagian dari dinamika hubungan. Namun, ketika konflik terjadi terus-menerus, disertai teriakan, saling menyalahkan, atau bahkan kekerasan verbal maupun fisik, anak dapat menjadi pihak yang paling terdampak secara psikologis meskipun tidak terlibat secara langsung.
Anak memiliki kepekaan emosional yang tinggi terhadap suasana di rumah. Bahkan balita mampu menangkap nada suara yang tegang dan ekspresi kemarahan. Otak anak memproses konflik orang tua sebagai situasi yang mengancam rasa aman dasarnya.
Karena belum mampu memahami konteks permasalahan orang dewasa, anak sering menafsirkan konflik secara keliru. Sebagian anak dapat merasa dirinya sebagai penyebab pertengkaran, yang kemudian memicu perasaan bersalah secara mendalam.
Ketika sering terpapar konflik orang tua, sistem respons stres anak menjadi lebih aktif. Tubuh memproduksi hormon stres yang, apabila berlangsung dalam jangka panjang, dapat mempengaruhi regulasi emosi dan kemampuan konsentrasi. Anak dapat menjadi lebih waspada, mudah cemas, atau justru tampak mati rasa secara emosional.
Dalam upaya memahami situasi, anak merespons sesuai usia dan kapasitasnya. Sebagian anak berusaha menjadi “penenang” dengan mencoba mendamaikan orang tua. Sebagian lainnya menarik diri karena merasa tidak berdaya. Ada pula anak yang meniru pola agresif yang disaksikannya, karena pola tersebut menjadi model penyelesaian konflik yang ia pelajari.
Konflik orang tua yang tidak terselesaikan juga dapat mengganggu rasa percaya anak terhadap relasi. Anak dapat belajar bahwa hubungan yang dekat identik dengan pertengkaran dan ketidakpastian.
Dampak pertengkaran orang tua dapat muncul dalam berbagai bentuk, tergantung pada usia, kepribadian, serta dukungan yang dimiliki anak. Beberapa dampak yang mungkin muncul antara lain:
Kecemasan dan rasa takut. Anak khawatir orang tuanya akan berpisah atau terjadi sesuatu yang buruk.
Kesedihan dan perasaan tidak aman. Anak merasa kehilangan tempat berlindung secara emosional.
Masalah perilaku. Sebagian anak menjadi lebih agresif, membangkang, atau sering terlibat konflik dengan teman sebaya.
Masalah akademik. Konsentrasi menurun karena pikiran anak dipenuhi kekhawatiran tentang kondisi di rumah.
Penarikan diri sosial. Anak menjadi lebih pendiam, sulit mempercayai orang lain, atau merasa berbeda dari teman-temannya.
Tidak semua pertengkaran orang tua berdampak sama pada anak. Konflik yang disertai hinaan, ancaman, atau kekerasan memiliki risiko yang jauh lebih besar dibandingkan perbedaan pendapat yang diselesaikan secara tenang. Anak juga cenderung lebih terpengaruh apabila konflik terjadi sangat sering dan tanpa penyelesaian yang jelas.
Sebaliknya, terdapat faktor pelindung yang penting. Jika setelah konflik orang tua menunjukkan rekonsiliasi dengan kembali berbicara dengan tenang atau menjelaskan kepada anak bahwa masalah telah dibicarakan dan diselesaikan, anak belajar bahwa konflik dapat diatasi dengan cara yang sehat. Hubungan yang hangat dan suportif antara orang tua dan anak juga membantu meminimalkan dampak negatif dari pertengkaran tersebut.
Apabila orang tua merasa kesulitan memahami emosi dan perilaku anak, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang bijak. Smile Consulting Indonesia menyediakan layanan asesmen psikologi, konseling, serta pendampingan profesional yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu. Smile Consulting Indonesia berkomitmen mendukung proses pengembangan diri secara komprehensif, tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada proses yang sehat dan bermakna.
Bandura, A. (1977). Social learning theory. Prentice Hall.
Cummings, E. M., & Davies, P. T. (2010). Marital conflict and children: An emotional security perspective. Guilford Press.
Harold, G. T., & Sellers, R. (2018). Annual research review: Interparental conflict and youth psychopathology. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 59(4), 374–402.
Steinberg, L. (2014). Adolescence (10th ed.). McGraw-Hill.