3 Maret 2026

Anak Sulit Berteman: Masalah Sosial atau Kesehatan Mental?

Sebagian anak mudah masuk ke lingkungan baru, cepat akrab, dan tampak luwes dalam bergaul. Namun, ada juga anak yang sering sendirian, canggung saat memulai percakapan, atau berkali-kali mengalami penolakan dari teman sebaya. Kondisi ini kerap membuat orang tua bingung: apakah perilaku tersebut sekadar menunjukkan kemampuan sosial yang belum berkembang, atau merupakan tanda adanya masalah kesehatan mental?

 

 

Kesulitan Berteman sebagai Bagian dari Perkembangan Sosial yang Wajar

 

Tidak semua anak yang sulit berteman mengalami masalah serius. Beberapa anak memiliki temperamen pemalu atau cenderung berhati-hati dalam situasi baru. Anak dengan karakteristik seperti ini biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman dalam lingkungan sosial.

 

Selain itu, anak sedang berada dalam proses mengembangkan keterampilan sosial, seperti membaca ekspresi wajah, menunggu giliran berbicara, memahami aturan bermain, hingga mengelola konflik kecil. Jika kurang memiliki latihan atau kesempatan, wajar apabila anak terlihat kikuk. Berada di lingkungan baru juga dapat membuat anak tampak “kesulitan berteman” untuk sementara waktu.

 

Dalam konteks ini, yang umumnya dibutuhkan adalah dukungan, kesempatan untuk berlatih, serta dorongan yang tepat, bukan pelabelan negatif.

 

 

Kesulitan Berteman sebagai Tanda Masalah Psikologis

 

Kesulitan berteman perlu mendapat perhatian lebih ketika disertai tekanan emosional yang nyata atau berlangsung dalam jangka waktu lama. Jika kesulitan tersebut membuat anak sering merasa sedih, cemas, menolak pergi ke sekolah, atau menarik diri dari berbagai aktivitas, kemungkinan terdapat aspek kesehatan mental yang terlibat. Beberapa kondisi psikologis yang dapat mempengaruhi kemampuan sosial anak antara lain:

 

Kecemasan sosial. Anak sangat takut dinilai, ditertawakan, atau ditolak. Ia mungkin ingin memiliki teman, tetapi rasa takut membuatnya menghindari interaksi.

 

Harga diri rendah. Anak merasa dirinya tidak menarik atau tidak layak disukai sehingga cenderung pasif atau terlalu sensitif terhadap penolakan kecil.

 

Kesulitan regulasi emosi. Anak mudah marah, impulsif, atau kesulitan memahami emosi orang lain, yang menyebabkan hubungan sosial sulit bertahan.

 

Kondisi perkembangan tertentu. Dalam beberapa kasus, gangguan seperti ADHD atau gangguan spektrum autisme dapat mempengaruhi pemahaman isyarat sosial dan pengendalian perilaku sehingga anak kesulitan membangun relasi yang timbal balik.

 

 

Dampak Jika Dibiarkan

 

Relasi dengan teman sebaya berperan penting dalam perkembangan emosional anak. Melalui pertemanan, anak belajar mengembangkan empati, kerja sama, keterampilan menyelesaikan konflik, serta membentuk identitas diri.

 

Anak yang terus-menerus mengalami kesulitan sosial berisiko merasa kesepian, tidak berharga, dan berbeda dari orang lain. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko munculnya kecemasan, depresi, serta kesulitan membangun relasi yang sehat pada masa remaja maupun dewasa.

 

 

Peran Orang Tua: Mendukung Tanpa Memaksa

 

Respons orang tua terhadap situasi pertemanan anak sangat mempengaruhi kemampuan anak dalam membangun relasi. Memaksa anak untuk memiliki banyak teman justru dapat menambah tekanan. Beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua antara lain:

 

Menjadi tempat yang aman secara emosional. Dengarkan cerita anak tanpa langsung mengkritik atau menyalahkan.

 

Mengamati pola, bukan hanya satu kejadian. Konflik pertemanan sesekali adalah hal yang wajar. Yang perlu diperhatikan adalah pola kesulitan yang menetap.

 

Melatih keterampilan sosial secara bertahap. Bermain peran di rumah, mengundang satu teman ke rumah, atau mengikuti kegiatan kelompok kecil dapat menjadi langkah awal.

 

Menguatkan konsep diri anak. Mengapresiasi usaha, keberanian mencoba, dan keunikan anak membantu membangun kepercayaan diri sebagai fondasi relasi sosial.

 

Jika orang tua merasa kesulitan memahami emosi dan perilaku anak, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang bijak. Smile Consulting Indonesia menyediakan layanan asesmen psikologi, konseling, dan pendampingan profesional yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu. Smile Consulting Indonesia berkomitmen mendukung proses pengembangan diri secara komprehensif, tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada proses yang sehat dan bermakna.

 

 

Referensi:


Albano, A. M., & DiBartolo, P. M. (2007). Cognitive-behavioral therapy for social phobia in adolescents. Oxford University Press.


Rubin, K. H., Bukowski, W., & Parker, J. G. (2006). Peer interactions, relationships, and groups. Dalam N. Eisenberg (Ed.), Handbook of child psychology (6th ed.). Wiley.


Steinberg, L. (2014). Adolescence (10th ed.). McGraw-Hill.


Thomas, A., & Chess, S. (1977). Temperament and development. Brunner/Mazel.

Artikel Terkait

14 April 2026
Setiap proses belajar yang dilakukan siswa adalah sebuah perjalanan kognitif yang kompleks. Tidak jarang kita menemui siswa yang memiliki ambisi besar namun bingung bagaimana cara belajar yang efektif...
13 April 2026
Perkembangan seorang anak sering kali diibaratkan seperti membangun sebuah gedung; jika fondasinya kuat, maka struktur di atasnya akan kokoh. Dalam psikologi perkembangan, fondasi tersebut adalah aspe...
10 April 2026
Masa remaja merupakan fase transisi yang krusial, di mana individu mulai dihadapkan pada tuntutan untuk memikirkan masa depan secara lebih serius. Pertanyaan mengenai pendidikan, karier, peran sosial,...