24 Februari 2026

Perilaku Agresif pada Anak: Pahami Penyebabnya

Perilaku agresif pada anak sering membuat orang tua khawatir, bingung, bahkan merasa gagal dalam mengasuh. Tidak sedikit orang tua yang mengeluh anaknya mudah memukul, menggigit, berteriak, membanting barang, atau berkata kasar ketika keinginannya tidak terpenuhi. Fenomena ini sebenarnya cukup umum terjadi, terutama pada masa kanak-kanak awal ketika anak masih belajar mengenali emosi dan cara mengekspresikannya secara tepat.


 

Apa Itu Perilaku Agresif?
 

Perilaku agresif adalah tindakan yang bertujuan untuk menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikologis. Agresif memiliki beberapa bentuk, antara lain fisik (memukul, menendang, mendorong, menggigit), verbal (berteriak, menghina, mengancam), relasional (mengucilkan, menyebar gosip), ekspresif (merusak barang). Agresif pada anak biasanya tidak didorong oleh niat jahat, tetapi oleh keterbatasan dalam mengelola emosi, terutama marah dan frustasi. Anak belum memiliki kemampuan regulasi emosi yang matang, sehingga responsnya masih impulsif.

 

 

Mengapa Anak Bisa Menjadi Agresif?
 

Perilaku agresif tidak muncul begitu saja. Ada kombinasi faktor lingkungan dan faktor internal dalam diri anak yang berperan.

 

  1. Faktor Lingkungan
  • Pola asuh

Anak yang sering mendapatkan hukuman fisik, bentakan, atau pola asuh keras cenderung meniru cara tersebut saat menghadapi konflik. Sebaliknya, pola asuh yang terlalu permisif tanpa batasan juga dapat membuat anak sulit belajar mengendalikan diri.
 

  • Model dari sekitar

Anak belajar melalui observasi. Paparan kekerasan di rumah, lingkungan, atau media (misalnya tontonan penuh kekerasan) dapat meningkatkan kecenderungan agresif.

 

  • Stres keluarga

Konflik orang tua, tekanan ekonomi, atau suasana rumah yang tidak hangat dapat membuat anak merasa tidak aman secara emosional, yang kemudian muncul dalam bentuk ledakan agresif.

 

     2. Faktor Internal

  • Kesulitan regulasi emosi

Anak belum mampu mengenali dan menamai perasaan seperti kecewa, cemburu, atau malu. Emosi yang menumpuk akhirnya keluar sebagai kemarahan.
 

  • Frustrasi dan kebutuhan yang tidak terpenuhi

Agresif sering menjadi reaksi ketika anak merasa tidak didengar, diabaikan, atau tidak mendapatkan perhatian yang dibutuhkan.

 

  • Rasa tidak berdaya

Beberapa anak menggunakan agresif sebagai cara untuk merasa memiliki kontrol. Ketika hidup terasa tidak pasti, agresif menjadi alat untuk “menguasai” situasi.

 

  • Perkembangan kognitif

Anak usia dini masih egosentris sehingga sulit melihat sudut pandang orang lain. Akibatnya, konflik kecil mudah dianggap sebagai ancaman besar.


 

Peran Orang Tua dalam Menangani Perilaku Agresif

 

Dalam menghadapi anak yang agresif, peran orang tua bukan sekadar menghentikan perilaku, tetapi membantu anak belajar memahami dan mengelola emosinya. Orang tua perlu menunjukkan bahwa emosi anak dapat diterima, meskipun perilaku agresifnya tidak dibenarkan. Miisalnya, ketika anak marah orang tua dapat mengatakan bahwa mereka memahami perasaan marah tersebut sambil tetap menegaskan bahwa memukul atau merusak barang bukanlah cara yang boleh dilakukan. Pendekatan ini membantu anak merasa dimengerti sekaligus belajar batasan.

 

Orang tua juga berperan sebagai model utama regulasi emosi. Cara orang tua merespons stres, konflik, dan kemarahan akan ditiru oleh anak. Ketika orang tua mampu menenangkan diri dan berbicara dengan tenang, anak belajar bahwa emosi bisa dikelola tanpa kekerasan. Selain itu, anak perlu dibantu untuk mengenali dan menamai perasaannya. Dengan kosakata emosi yang lebih kaya, anak tidak lagi harus mengekspresikan kemarahan melalui tindakan agresif.
 

Penerapan aturan yang jelas dan konsisten juga penting. Batasan membuat anak merasa aman karena ia memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Konsistensi membantu anak belajar bahwa setiap perilaku memiliki konsekuensi. Di sisi lain, orang tua perlu memberi perhatian pada perilaku positif anak. Ketika anak berhasil mengendalikan diri atau menyampaikan perasaan dengan kata-kata, apresiasi sederhana dapat memperkuat perilaku tersebut.

 

Orang tua perlu melihat agresif sebagai sinyal kebutuhan emosional. Anak yang menunjukkan perilaku agresif mungkin saja sedang merasa kurang diperhatikan, cemas, atau tidak aman. Kehadiran orang tua yang hangat, waktu berkualitas bersama, serta komunikasi yang terbuka dapat membantu menurunkan ketegangan emosional anak.


 

Apabila orang tua sudah merasa kesulitan menangani perilaku agresif anak, ada baiknya untuk mencari bantuan profesional. Smile Consulting Indonesia menyediakan layanan asesmen psikologi, konseling, dan pendampingan profesional yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap individu. Smile Consulting Indonesia berkomitmen mendukung proses pengembangan diri secara komprehensif tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada proses yang sehat dan bermakna.


 

Referensi:
 

Berk, L. E. (2018). Development through the lifespan (7th ed.). Pearson.
 

Papalia, D. E., & Martorell, G. (2021). Experience human development (14th ed.). McGraw-Hill Education.
 

Santrock, J. W. (2019). Life-span development (17th ed.). McGraw-Hill Education.

 

Artikel Terkait

17 April 2026
Masa remaja sering kali digambarkan sebagai masa badai dan stres (storm and stress), di mana perubahan fisik dan emosional terjadi secara drastis. Salah satu fenomena yang paling sering dikeluhkan ole...
14 April 2026
Setiap proses belajar yang dilakukan siswa adalah sebuah perjalanan kognitif yang kompleks. Tidak jarang kita menemui siswa yang memiliki ambisi besar namun bingung bagaimana cara belajar yang efektif...
13 April 2026
Perkembangan seorang anak sering kali diibaratkan seperti membangun sebuah gedung; jika fondasinya kuat, maka struktur di atasnya akan kokoh. Dalam psikologi perkembangan, fondasi tersebut adalah aspe...